
 |
 |
|
|
|
Saturday, December 02, 2006
Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya :
Soalan pertama Imam Ghazali : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? Murid 1 : Orang tua Murid 2 : Guru Murid 3 : Teman Murid 4 : Kaum kerabat
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI ( Surah Ali-Imran:185) . Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Soalan kedua Imam Ghazali : Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ? Murid 1 : Negeri Cina Murid 2 : Bulan Murid 3 : Matahari Murid 4 : Bintang-bintang
Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Soalan ketiga Iman Ghazali : Apa yang paling besar didunia ini ? Murid 1 : Gunung Murid 2 : Matahari Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.
Soalan keempat Imam Ghazali : Apa yang paling berat didunia ? Murid 1 : Baja Murid 2 : Besi Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.
Soalan kelima Imam Ghazali : Apa yang paling ringan di dunia ini ? Murid 1 : Kapas Murid 2 : Angin Murid 3 : Debu Murid 4 : Daun-daun
Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat.
Soalan keenam Imam Ghazali : Apa yang paling tajam sekali didunia ini ? Murid- Murid dengan serentak menjawab : Pedang
Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati
----------------
Sebuah renungan dari milist tetangga, sudah lama tapi pengen taruh di blogku supaya saya selalu teringatkan....
-aRuL-
Posted at 12/2/2006 6:53:11 pm by aRuL
Permalink
Tuesday, November 28, 2006
hehehe berdasarkan search engine.... ku dapat data ini...
sori yang hanya adalah IPA coz skulku cuman Kelasnya kelas IPA doang
DAFTAR SMU NEGERI DAN SWASTA - Program Studi IPA Peringkat Nasional 1 s/d 50 Berdasarkan hasil EBTANAS SMU/MA
1. SMU KRISTEN I PENABUR 2. SMU INSAN CENDEKIA 3. SMUN 2 MODAL BANGSA KUTA BARO 4. SMU KRISTEN 3 PENABUR 5. SMU SANTA URSULA 6. SMU ALOYSIUS 1 BANDUNG 7. SMU KRISTEN BPK 1 PNB BANDUNG 8. SMU ST. URSULA II 9. SMU NEGERI 8 10. SMU Negeri 1 Padang Panjang 11. SMU Taruna Nusantara 12. SMU KRISTEN 5 BPK PENABUR 13. SMU ST ANGELA BANDUNG 14. SMUN 2 TINGGIMONCONG (ini sekolahku....... lumayan peringkat 14) 15. SMU KANISIUS 16. SMU NEGERI 1 SIDOARJO 17. SMU DON BOSCO II 18. SMU N 2 AMLAPURA 19. SMU SANG TIMUR 20. SMU Kolese Loyola 21. SMU TARUNA BUMI KHATULISTIWA 22. SMU NEGERI 1 GENTENG 23. SMU KRISTEN BARANA 24. SMU Negeri 1 Yogyakarta 25. SMU SWASTA TITIAN TERAS 26. SMU NEGERI 12 27. SMU YOS SUDARSO 28. SMU TRINITAS BANDUNG 29. SMU Negeri 1 Bukittinggi 30. SMU SANTA THERESIA 31. SMU TARUNA DRA. ZULAEHA 32. SMU FONS VITAE I 33. SMU K KALAM KUDUS 2 34. SMU NEGERI 1 GIANYAR 35. SMU NEGERI 81 36. SMU KRISTEN KARUNIA 37. SMU Negeri 3 Yogyakarta 38. SMU N 1 Klaten 39. SMU NEGERI 5 SURABAYA 40. SMU ALOYSIUS 2 BANDUNG 41. SMU KRISTEN 4 PENABUR 42. SMU KRISTEN BINA BAKTI 2 43. SMU N 1 Pati 44. SMU DWI WARNA 45. SMU Negeri 4 Bukittinggi 46. SMU NEGERI 1 TUBAN 47. SMU PELITA HARAPAN 48. SMU NEGERI 78 49. SMU NEGERI 1 SEMARAPURA
Posted at 11/28/2006 12:56:06 am by aRuL
Permalink
Sunday, November 26, 2006
Anyway…….
untuk sementara sy gak bisa dihubungi lewat HP, HPku hilang semalam.
kalo mau hubungi saya bisa lewat email, fs, telp rumah, kost, lab. dsb…..
thx for attention
-arul-
Posted at 11/26/2006 1:52:45 pm by aRuL
Permalink
Monday, November 13, 2006
Bu ida (e-1) said............... (padahal ku e-43 jau ...)
Kita di dalam itu harus solid... kita di luar itu sikut-sikutan dengan yang lain... komunitas kita dijatuhkan.... padahal kita punya kemampuan lebih dibanding yang lain
(I dont know its about election of rector, about what the ITS future, or bout student....)
its about politicsm.........
Posted at 11/13/2006 7:35:42 pm by aRuL
Permalink
luqman mahfoed(dirut medco) said...
Saatnya itu kita bersatu... dan solid.... ITS itu besar.... keakraban itu muncul dengan adanya kebersamaan... (tapi jangan2 bawa nama pengjkaderan hehee pak jaz ketawa nih...)
one day in shangriLa.... lunch ... oi....
Posted at 11/13/2006 7:29:24 pm by aRuL
Permalink
Saturday, November 11, 2006
sekarang
saatnya mahasiswa cepat lulus coz supaya segera mendapatkan banyak
pengalaman di luar sana... yang lebih banyak lagi dan bisa lebih lama
mendapatkan pengalaman2 itu... I'am so ..glad.... oh..
ternyata.... ada benarnya juga sih... kalo kita terlalu banyak jadi
aktivis di dalam ternyata tidak berbuah apa2... tetapi pengalaman di
luar yangjuga sangat menentukan.... one the night ... in heroes day..... Kristiono said (mantan dirut telkom, skrg komisaris BEJ) alumni elektro ITS
Posted at 11/11/2006 7:23:53 pm by aRuL
Permalink
Ya Allah, Kapan Aku Mengangkat Koperku Sendiri...?
Saat itu adalah bulan Muharram tahun 1424 H. Seorang pria
bernama Mamat yang bekerja di Bandara Soekarno-Hatta sedang sibuk
mengangkat koper-koper penumpang. Koper bukan sembarang
koper. Semua koper yang baru saja dibongkar dari
pesawat Saudia Airlines itu memiliki kesamaan; berbentuk
besar, berwarna biru tua dan bertuliskan nama pemilik,
nomer kloter dan asal kota. Koper-koper
tersebut adalah milik jemaah haji yang baru saja selesai
menunaikan ibadah haji di Tanah Suci pada tahun itu.
Setiap kali mengangkat satu koper, Mamat selalu membaca basmalah dan
shalawat kepada Rasulullah Saw. Sudah berpuluh koper yang ia
angkat, hingga rasa itu muncul di dadanya. Pada kali
selanjutnya, tatkala tangannya menggamit pegangan
koper, ia sempat membaca doa kecil kepada Allah Sang
Penguasa alam di dalam hatinya, "Ya Allah, kapan saya
mengangkat koperku sendiri seperti ini...?!"
Sebenarnya yang ia maksud adalah ia begitu berharap dapat
berangkat haji ke Baitullah.
Rupanya Allah mendengar jeritan hati Mamat. Hanya selang 4
bulan saja, Subhanallah, namanya keluar sebagai salah seorang
dari 17 orang pegawai yang mendapatkan jatah naik haji tahun
itu atas biaya kantor. Mamat pun amat bersyukur
kepada Allah Ta'ala karenanya. Namun
kebahagiaan ini tidak serta-merta membuat Mamat puas hati. Ia tahu
bahwa berita ini boleh jadi akan membuat Iis, istrinya bersedih.
Sebab hanya dia saja yang dapat berangkat naik haji,
padahal mereka berdua selalu berdoa kepada Allah Swt
agar dapat berangkat naik haji bersama-sama.
Maka tatkala menyampaikan berita ini pun, Mamat amat
hati-hati dalam mengemasnya. "Semoga tidak ada bahasa
yang terpeleset dan melukai hati", itulah harapan
Mamat.
"Is.... Akang minta maaf ya sama kamu..." Mamat mencoba membuka
percakapan dengan meminta maaf terlebih dahulu. "Emangnya ada
apa, Kang?" sang istri bertanya. "Akang ingin beritahukan
sesuatu ke kamu, tapi kamu jangan marah ya...
apalagi sedih...?" sambut Mamat. Kalimat itu membuat Iis
menjadi gelisah. Ia coba tenangkan hati untuk
mendengar berita gak enak ini. Mamat pun kemudian menyambung
kalimatnya dengan nada hati-hati, "Is... Akang
hari ini mendapat kejutan. Akang terpilih menjadi
salah satu karyawan yang akan diberangkatkan haji oleh
kantor..."
"Alhamdulillah. ...!!!" Iis berteriak kegirangan. Ia langsung melompat ke arah
Mamat suaminya dan memeluknya dengan erat. Dengan bersemangat Iis berkata,
"Kirain berita sedih...! Berita bagus kayak begini kok dibawa sedih kayak begitu
Kang? Iis ikut senang ngedengernya! " "Ya... emang sebenarnya ini adalah berita
gembira, cuma yang bikin Akang takut membuat kamu sedih adalah karena Akang gak
punya duit untuk ngeberangkatin kamu, Is! Akang khan cuma pegawai kecil seperti
kamu tahu... Kalau saja, duit itu ada, tentu Akang akan ajak kamu juga untuk
berhaji ke rumah Allah!" Iis lalu mengerti kegundahan yang berkecamuk dalam hati
suaminya. Sambil tersenyum, Iis berujar, "Udah kang gak usah dipikirin, Iis rela
melepas Akang naik haji. Tapi jangan lupa doain Iis ya biar cepat nyusul!"
Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Mamat tentang perasaan istrinya pun tidak
berlaku. Sekali lagi Mamat bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla karenanya.
Hari itu adalah jadwal Mamat untuk berangkat haji. Seperti
kebiasaan orang kampungnya, maka kepergian Mamat diantar dengan
adzan dan iqamat. Pembacaan shalawat dustur yang
dikumandangkan oleh seorang ustadz pun membuat semua orang haru
meneteskan air mata. Saat itulah, Mamat
berpamitan dengan menyalami serta merangkul orang-orang yang ia kenal
seraya meminta restu. Semua anggota
keluarga, kerabat, tetangga, sanak famili menghadiri acara itu.
Semuanya sudah bersalaman dan berangkulan
dengan Mamat. Hingga saat Mamat hendak naik ke atas kendaraan,
saat itulah tiba giliran Iis mencium punggung
telapak tangan suaminya dan suasana haru pun
tercipta. Air mata suami-istri itu pun jatuh
membasahi bumi. Saat mereka berdua berpelukan, Iis berucap,
"Kang Mamat...., jangan lupa untuk doain Iis ya di
Baitullah... panggil-panggil nama Iis di sana. Insya Allah, Iis dan anak-anak
ikhlas ngelepas Akang. Semoga kita semua, dengan doa kang Mamat, bisa nyusul
berangkat haji bareng-bareng. ..!" Tak kuasa Mamat menahan tangis. Pelukan itu
makin ia pererat. Ia hanya mampu mengucapkan kata 'Amien'.
Dalam hati, Mamat berucap agar Allah Swt juga berkenan mengajak istri dan
anak-anaknya untuk berhaji seperti dia. Di dalam kendaraan Mamat masih sempat
berdoa kepada Allah Swt untuk keluarga yang ia tinggalkan: ALLAHUMMA ANTAS
SHAHIBU FIS SAFAR, WAL KHALIFATU FIL AHLI. HR. Muslim "Ya Allah, Engkau adalah
pendampingku dalam perjalanan. Engkau juga yang menggantikan aku untuk menjaga
keluarga yang ditinggalkan. .. Amien" HR. Muslim.
Usai membaca doa, ia pusatkan konsentrasinya untuk khusyuk
beribadah kepada Allah Swt. 42 hari Mamat menuntaskan semua ritual ibadah haji
di
kota suci Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al
Munawwarah. Semuanya dijalani dengan begitu khusyuk
dan nikmat. Sesampainya di tanah air pun, ia langsung mendapatkan
sebuah titel baru dari masyarakat. Kini ia dikenal dengan panggilan Haji Mamat
di kampungnya.
Lepas 6 bulan setelah kepulangannya dari tanah suci. Iis
istrinya yang dulu sempat berucap ikhlas melepas kepergian suaminya ke
tanah suci, pagi itu ia kelepasan berujar bahwa dirinya
sebenarnya begitu ingin juga berangkat ke tanah suci
untuk berhaji. Kalimat itu dituturkan dengan nada
sedih yang mengguncang hati Mamat. Kegundahan
itu memang pernah diduga sebelumnya oleh Mamat.
Namun baru kali ini kegundahan itu membuncah, dan
tercetus lewat penuturan akan kerinduan untuk datang ke
rumah Allah Swt dalam ritual haji. Muslim atau muslimah
mana yang tidak mau untuk berhaji?
Maka demi menghibur hati Iis, Mamat pun berujar kepadanya, "Is...
kamu memang berhak untuk berangkat haji seperti orang lain, tapi
Akang belum cukup punya uang. Sekarang kita hanya mampu
untuk berdoa kepada Allah Swt.... Dia Maha Kuasa....
Jangankan minta haji.... minta yang lebih dari itu
Dia pun amat kuasa. Nanti malam kita bangun ya untuk
shalat tahajud...! kata ustadz, doa pada sepertiga
malam terakhir amat dikabul. Nanti kita doa sama-sama
untuk minta naik haji. Insya Allah akan
dikabulkan.. . percaya deh!"
Demikian ajakan Mamat kepada istrinya untuk melakukan shalat
tahajud dan berdoa bersama nanti malam. Dan ajakan itu, disambut
dengan anggukan kepala oleh Iis tanda setuju. Rupanya
Mamat pulang dari kerja tidak seperti biasa. Hari itu ia tiba di
rumah lewat dari pukul 20.00 WIB. Rupanya ada pekerjaan ekstra yang
ia lakukan. Biasanya Mamat sudah tiba di rumah pukul 5
sore. Mungkin, ada pesawat lain yang tiba di luar
jadwal, sehingga beberapa kuli panggul seperti
Mamat disiagakan untuk bongkar muatan.
Mamat pulang dengan badan yang letih.
Usai menjalani shalat Isya, ia langsung rebahan
di atas kasur dan langsung tertidur. Rasa letih
membuatnya lupa untuk makan malam terlebih dahulu, atau
menyapa keluarganya yang masih menunggu kedatangannya. Iis dapat
memaklumi hal itu. Tidak beberapa lama
kemudian, Iis pun menyusul tidur di atas ranjang
bersama suaminya. Seperti apa yang telah mereka
janjikan, Iis terjaga dan bangkit dari tidur pada pukul
3 pagi. Kemudian ia tepuk-tepuk kaki suaminya. Karena terlalu letih, Mamat tak
sanggup untuk bangkit dan hanya berujar, "Ah...ah...! " tanda bahwa ia tak
sanggup membuka mata. Iis langsung bangkit menuju kamar mandi. Usai berwudhu, ia
kembali lagi ke kamar untuk bertahajud. Sajadah telah dibentangkan dan mukena
pun telah ia kenakan. Sebelum melakukan shalat, untuk kedua kalinya Iis menepuk
kaki Mamat agar ia bangun dan melakukan shalat tahajud bersama-sama. Sekali
lagi, Mamat hanya mengeluarkan kata, "Ahh...ahh.. .!" Ia terlalu lelah untuk
bangkit dan menyusul istrinya untuk bertahajud. Iis pun memaklumi. Raut wajah
Mamat yang letih sudah mengabarkan bahwa ia terlalu lelah bekerja hari itu. Iis
pun melapalkan takbiratul ihram tanda ia memulai shalat tahajud.
Begitu khusyuk shalat yang Iis dirikan, dan di atas
pembaringan Mamat pun menyaksikan sosok istrinya yang
bermukena sedang menjalankan shalat. Namun ia dalam
kondisi antara tidur dan terjaga. Kata orang, ini
adalah tidur ayam. Tidur tak mau, bangun tak kuasa. Setiap gerakan shalat yang Iis
lakukan selalu ia iringi dengan tetesan air mata.
Sungguh..., seolah Allah Swt hadir menyambut
kedatangan Iis dalam keheningan malam itu. Hingga
kedekatan dengan Sang Maha Pencipta pun dapat dirasakan
oleh Iis yang menjalankan shalat tahajud.
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah satu jam
lebih Iis melakukan shalat dan dzikir kepada Allah Swt. Waktu telah menunjukkan pukul
4 lebih. Dan ia berkeinginan untuk bermunajat
kepada Allah Swt dalam lantunan dan rangkaian doa yang ia
bacakan.
"Allahumma, ya Allah... Izinkan hamba-Mu ini untuk dapat
berhaji ke rumah-Mu. Mudahkan jalan hamba.... Lapangkanlah rezeki kami. Engkau
Yang Maha Kuasa atas segalanya... . Berikan perkenanmu agar aku sanggup datang ke
rumah-Mu untuk beribadah dan memakmurkannya. .. Dengarkan doaku dan Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu...!"
Dalam kesyahduan doa yang dibaca oleh Iis kepada Tuhannya,
rupanya Mamat pun sempat mengamini di dalam hati tanpa sepatah
kata pun terucap. Sungguh, malam itu telah terbangun sebuah jalinan
suci antara seorang hamba dengan Allah Swt dalam
rangkaian doa yang penuh hikmat dan cita.
Adzan Shubuh mulai terdengar di beberapa masjid dan
mushalla. Untuk terakhir kali, Iis membangunkan Mamat
suaminya sambil berujar, "Pak Haji... ayo bangun! Malu
sama tetangga. Masa sudah haji enggak shalat
Shubuh berjamaah? Ayo bangun,
Kang....!" Mamat pun bangkit. Berat sekali
rasanya ia mengangkat badan. Setelah berwudhu, ia pun
mengenakan pakaian yang bersih lalu berangkat menuju
mushalla untuk melaksanakan shalat Shubuh.
Mamat mengucapkan salam saat masuk kembali ke rumah.
Iis dan anak-anak pun sudah bangun semua. Inilah rumah yang
berkah. Semua sudah terjaga dan bangkit untuk menyongsong hari yang
indah. Mamat kemudian meminta Iis membuatkan secangkir kopi
untuknya. Kemudian dengan tasbih di tangan, ia baru
saja hendak menempelkan pantatnya ke kursi
sofa di ruangan depan. Namun tiba-tiba hasratnya untuk
duduk, dihentikan oleh dering telfon yang berbunyi keras
di pagi hari. Mamat pun mengangkat gagang telfon.
"Assalamu'alaikum. .... ini dari mana dan mau bicara dengan
siapa?" Mamat membuka pembicaraan. "Mat... ini teh Sulis, Iis ada
nggak?" demikian suara di seberang menjawab. Mamat pun tahu bahwa
orang yang menelfon ini rupanya adalah kakak iparnya
sendiri. Tanpa berpikir panjang, Mamat pun memanggil Iis
yang saat itu sedang hendak membuatkan kopi untuknya. Mamat kembali duduk di atas
kursi sofa. Sementara Iis duduk di lantai untuk menerima
telfon. Baru saja Iis mengucapkan salam kepada teh Sulis, namun setelah itu
tidak ada satu patah kata pun yang meluncur dari mulut Iis. Yang ada adalah
deraian air mata dan kata, 'iya Teh!' berulang-ulang diucapkan.
Pembicaraan telfon di pagi hari itu sudah lebih dari 10 menit
berlangsung. Melihat istrinya terus menangis, Mamat menduga bahwa
ada berita buruk yang terjadi terhadap keluarga hingga pagi-pagi
begini sudah menelfon dan membuat istrinya
menangis. Mamat mengira bahwa ada salah seorang familinya
berpulang kepangkuan Ilahi.
Gagang telfon itu kemudian diletakkan Iis. Ia masih
sesenggukan menahan tangis. Iis mencoba mengangkat
wajah dan menghadap ke arah suaminya. Saat itu Mamat
mencoba menyelak dengan pertanyaan, "Siapa yang meninggal,
Is..?" Masih sesenggukan Iis menjawab, "Gak ada yang meninggal,
Kang!" "Lalu kenapa kamu menangis kayak begitu, emangnya berita
sedih apa yang diceritain teh Sulis?" Mamat masih
mengejar dengan pertanyaan yang lebih menukik.
Saat itulah Iis menceritakan hal sebenarnya, "Kang...., barusan
teh Sulis bilang bahwa ia berniat berangkat haji tahun ini.
Kebetulan kang Andi suaminya lagi banyak kerjaan. Kang Andi gak
bisa nemenin....Teh Sulis tadi nanya saya, kamu khan belum berhaji,
mau gak saya ajak? Teh Sulis mau bayarin biaya haji
saya.... tapi saya disuruh minta izin dulu ke Akang.
Iis gak nyangka, Kang.... begitu cepat Allah menjawab doa yang
baru saja Iis sampaikan dalam tahajud. Sekarang, pilihan mah
ada di Akang. Jika Akang izinkan, saya siap. Kalau Akang
enggak izinin saya juga ikhlas...!" Iis berhenti
sejenak mengatur nafasnya yang masih sesenggukan.
Air mata itu masih menetes tanda haru dan syukur atas
doa yang Allah Swt kabulkan. Sementara Mamat masih
terdiam, terperangah dan takjub atas kemurahan
Tuhan.
Mamat langsung merangkul istrinya ke dalam dekapan. Mamat
berujar, "Kamu boleh berangkat haji untuk beribadah dan nemenin
teh Sulis. Akang ikhlas mengizinkan kamu dan merawat
anak-anak di rumah. Silahkan kamu berhaji untuk
melengkapi agama kamu, Is!"
Keduanya masih berpelukan erat tanda haru dan syukur atas
nikmat Allah Swt yang tiada ternilai. Dalam keharuan tersebut
ternyata masih tersisa sebuah penyesalan dalam dada Mamat yang
kemudian terbersit di hatinya, "Coba, saya ikut bangun
tahajud dan berdoa kepada Allah untuk minta haji.
Mungkin bisa berangkat bareng-bareng juga kali ya....?!" Itulah kisah sepasang
suami-istri hamba Allah Swt yang dimudahkan untuk berhaji ke Baitullah. Semoga
Anda dan saya dapat menerima anugerah serupa. Amien!
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."
(QS. 2:185)
Posted at 11/11/2006 12:51:47 am by aRuL
Permalink
hubungan, INA BF 100, alumni ITS, menteri, dan aku......
aku adalah calon presidennya.. hehehehehe....
Posted at 11/11/2006 12:35:25 am by aRuL
Permalink
Friendsterku suda 1000 friends
Terhitung anton (biasa ku panggil bajuri jadi friendsku yang keseribu.. ) selamat yah....
Wekz....
Posted at 11/11/2006 12:28:46 am by aRuL
Permalink
Sunday, November 05, 2006
Samudera Pengetahuan Nabi Salallahu 'alaihi wasalam
Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Suhbat 24 Agustus 2006*
A`udzu billahi min asy-shaitaan ir-rajiim Bismillahi
'r-Rahmani 'r-Rahiim
Nawaytu'l-arba` iin, nawaytu'l-`itikaaf,
nawaytu'l-khalwah, nawaytu'l- riyaada, nawaytu's-suluuk,
nawaytu'l-`uzlah lillahi ta`ala fii hadza'l-masjid
Pada sesi sebelumnya dikemukakan tentang tidak ada
satupun yang bisa mengerti tentang Peningkatan
Samudera Pengtahuan Nabi salallahu alaihi wasalam. Dan
peningkatan beliau ini tidak terhitung, kalian tidak
dapat menghitungnya. Karena dalam setiap kesempatan
peningkatan beliau merupakan kenaikan berganda dari
yang sebelumnya.
Ini tidak berarti bahwa dalam setiap kenaikan beliau
mencapai jarak yang lebih pendek dari sebelumnya,
namun beliau menempuh jarak 2 kali dari sebelumnya.
Yang selanjutnya akan menjadi 4x dari sebelumnya lalu
16x dari sebelumnya dan seterusnya. Inilah bagaimana
Nabi (saw) mengalami kenaikan dalam setiap waktu 2x
dari kenaikan pertama. Dan awliyaullah bahkan tidak
dapat mengerti pengetahuan dan realitas yang Allah swt
pakaikan kepada kekasihNya Muhammad saw dari satu
kenaikan ke kenaikan lain. Mereka mungkin mengambil
setetes dari samudera dan satu tetes itu cukup membuat
mereka terlena dan mabuk.
Kebesaran yang Allah swt berikan kepada Sayyidina
Muhammad (saw) tidak dapat dijelaskan dan karena
itulah Allah berfirman dalam kitab suci Al Qur'an:
Laqad ja`akum rasulun min anfusikum…. Bil muminiina
raufun rahiim fa in tawallaw, fa qul hasbiyAllahu La
ilaha ill-Allah. Allah swt telah mengirimkan kepada
kalian. *Laqad ja`akum min anfusikum rasulun min
anfusikum* –dari diri kalian sendiri. Artinya bahwa
dari dalam diri setiap orang memiliki koneksi kepada
Nabi (saw). Bila diandaikan jika Nabi (saw) adalah
sumber utama energi lalu setiap orang terhubung
kesana. Di setiap rumah kalian memiliki energi listrik
yang dialirkan dari sumber utama, itulah mengapa kita
mengatakan listrik ini (energi) datang dari listrik
itu (sumber energi listrik .pet). Di rumah listrik
datang dari sumber yang sama. Itulah sebabnya juga
kami mengatakan kamu berasal dari kamu.
Allah telah mengirimkan ke tengah-tengah kamu seorang
pembawa amanat. Itulah arti literalnya. Namun dalam
arti hakikatnya adalah Allah swt telah mengirimkan
seorang pembawa amanat bagi semua manusia, dari sisi
manapun orang itu telah mewarisi dan memiliki koneksi
kepada para Nabi dan hanya Allah mengetahui yang
terbaik. Dari setiap ke-aku-an dari kita ada sebuah
koneksi/koneksi kepada para nabi. Artinya bahwa setiap
individu memiliki sebuah hubungan. Dan para nabi dapat
meraih kita melalui dengan melacak koneksi yang menuju
ke-aku-an dalam diri setiap manusia.
Laqad ja`akum rasulun min anfusikum – datang dari
dirimu sendiri.
Tidak datang dari … artinya beliau (Nabi (saw))
laksana sebuah sumber energi utama dan setiap orang
terhubung dengan beliau. Ketika seseorang sangat dekat
dengan kalian, ketika seseorang terhubung dengan
kalian, (maka) kalian terhubung kepada Nabi saw,
itulah mengapa *ummat an-Nabi* berada dalam pelukan'
Nabi saw, antara 'sayap-sayap' dan lengan-lengan
beliau, dibawah 'sayap-sayap' dan lengan-lengan
beliau, mereka (ummat an-Nabi) tidak dapat keluar.
Itulah alasan mengapa dia 'bersama kalian'. Kalian
berada dalam pengaruh Nabi (saw). Ketika kalian berada
dibawah 'sayap' dan lengannya, beliau sangat
memperhatikan kalian, itulah kenapa beliau bersabda
*Hariisun alaykum*. Beliau tidak memberikan kesempatan
bagi setan untuk menarik kalian keluar. Dan juga
itulah alasan mengapa hal ini menjadi berkesinambungan
dalam penjelasan sebelumnya yang dipaparkan oleh
Grandsyekh, bahwa *la`an-Allah al kafiriin,
la`an-Allah al-musyrikiin, la`an-Allah al-munaafiqiin*
, kutukan itu datang dari karakter-karatkter buruk.
Saat kutukan datang kepada mereka, kutukan ini seperti
mesin cuci. Saat pakaian dimasukkan ke dalam mesin
cuci apa yang terjadi? Mesin itu akan membersihkan
pakaian. Begitu pula dengan halnya dengan
karakter-karakter ini, dalam Kehadirat Illahi akan
dibersihkan. Itulah alasannya beliau sangat
memperhatikan kalian, *wa bil muminiina raufun rahiim*
untuk kelompok kalian, *muminiina*… beliau
memperhatikan kita karena 'steker' kita adalah steker
yang bagus, sehingga kita menjadi Muslim. Dan dengan
sebagian orang yang *raufun rahiim* apa artinya Rauf?
Lemah lembut.
Memiliki belas kasihan. Dan *rahiim* – penyayang.
Bukan hanya pengasih. *Rahman* memiliki arti pengasih.
*Rahiim* adalah rasa pengasih untuk mengampuni kalian.
Artinya jika kalian berada dilingkup dikasihi dan
kalian dibawah lingkup belas kasihan, artinya
dimanapun (tingkat) Nabi (saw), beliau akan bersama
kalian, kalian berada dalam tingkatan yang bergerak.
Meskipun kalian tidak mengerti setetes dari
pengetahuan ini tapi Nabi (saw) tidak akan membiarkan
kalian keluar dari lengan dan sayap beliau. Itulah
mengapa semua Ummah 'bergelantungan' dengan Nabi (saw)
dan tidak ada satupun yang akan tertinggal.
Setiap orang akan berada dalam Mi'raj. Karena itulah
ketika seseorang dari *Ummat an-Nabi* meninggal, dia
melihat dirinya sendiri,"Oh, Saya tidak melakukan
semua itu. Saya tidak melakukan banyak ibadah. Saya
tidak pernah mencapai tingakat itu." Pada kesempatan
itu dia mengerti bahwasanya dia berada dalam lingkup
NabiNya tercinta Sayyidina Muhammad dan dia tidak
tertinggal. Jikalau dia tertinggal maka Nabi (saw)
tidak *Hariisun alaykum*.
Beliau tidak bisa menjaga seseorang jika dia memang
diperuntukan bagi Iblis. Allah mengenakan Nabi (saw)
dengan atribut pemelihara kaum beliau dan dia tidak
akan melepaskan satupun ke tangan iblis. Beliau akan
membawa semua Ummahnya ke Hadirat Allah dengan bersih.
Bukan …*uluum al-awwaiin wal akhiriin* sesuatu yang
dapat dijelaskan. Kalian tidak dapat menjelaskannya.
Apa yang Allah berikan kepada *Sayyidina Muhammad*
(saw) melebihi akal pikiran kita. Dari pengetahuan itu
Grandsyekh memberitahukan bahwa Nabi (saw) memanggil
para Sahaaba dan mengumumkan bagi siapapun yang dapat
membaca Al Qur'an hingga selesai (khatm) dalam
semalam, maka anak beliau saw, Fatima ra akan menjadi
istrinya –Jadi, semua Sahaaba berusaha menyelesaikan
membaca Kitab Suci dari Isya hingga Fajr untuk
menyelesaikan dalam jangka waktu tersebut.
Dan mereka harus membaca dengan *Ahkam*,
aturan-aturannya. Semua Sahaaba membuka mata semalaman
berusaha khatm Al Qur'an. Saat Fajr Nabi (saw)
menanyakan," Adakah yang khatm Al Qur'an?" Tidak ada
yang menjawab 'ya' kecuali Sayyidina `Ali (r). Mereka
bertanya kepada Sayyidina `Ali (r),"Ya 'Ali (r) kamu
tidur semalaman. Bagaimana caranya kamu bisa khatm Al
Qur'an?" Karena ketika mereka membaca Al Qur'an, harus
dengan aturan tertentu, tidak seperti ketika kita
membaca sebuah cerita. Al Qur'an dibaca beserta
rahasia dibaliknya. Ketika mereka membaca Al Qur'an
berarti mereka memasuki samudera dalam tiap hurufnya.
Dan awliyaullah dapat meraih dari setiap huruf
tersebut 24.000 samudera pengetahuan. Pada saat mereka
membaca Al Qur'an, maka mereka harus mengerti
pengetahuan dibalik tiap huruf. Tidak seperti cara
baca kita saat ini.
Atau bahkan tidak seperti cara baca awliyaullah saat
ini. *Sahabat an-Nabi* (saw), ketika mereka membaca Al
Qur'an, mereka membacanya dengan rahasia cahaya
yang datang dari setiap huruf di saat itu. Karena
pengetahuan dalam setiap huruf terus bertambah, dalam
urutan tertentu, urutan yang diikuti dengan
pengertiannya masing-masing. Para Sahaaba membaca Al
Qur'an walaupun tidak mungkin menyelesaikannya satu
halaman dengan aturan-aturan yang ada.
Sayyidina `Ali (r) sedang tidur sepanjang malam.
Mereka bertanya kepadanya, "Bagaimana cara kau
menyelesaikannya (membaca Al Qur'an)?" Dia
menjawab,"*Ya sayyidii Ya Rasulullah*" –Dia adalah
pintu dari kota pengetahuan dan dia tahu bagaimana
mencapai tingkatan itu. Kalian harus menyelesaikan
suatu tingkatan untuk diberikan pengetahuan dalam
setiap huruf Al Qur'an. Itulah kenapa awliya
memberikan banyak perhatian terhadap amalan harian
(awraad) yang mereka berikan kepada kalian.
Sayyidina `Ali (r) berkata, "*Ya sayyidii Ya
Rasulullah* apa yang saya baca adalah yang saya ambil
dari hati Engkau, yaitu 3x *shahada* 70x *istighfaar*
,
dan Fatiha dan *Amana ar-Rasula* dan 7x *alam nashrah
*dan 11x *qul Huwa Allahu ahada*, 10x *La ilaha
ill-Allah*, dan 10 *salawat* tertuju kepadamu
(Rasulullah) dan saya mengirimkan sebuah hadiah
kepadamu. Nabi (saw) menjawab,"sadaqa `Ali ."
Karena pelafalan 3x *qul Huwa Allahu Ahad* seperti
membaca seluruh Al Qur'an sebagaimana yang Nabi (saw)
katakan. Jadi, 3x memasuki samudera dari Surah
itu telah cukup bagi Sayyidina `Ali (r) untuk
menyelesaikan membaca Al Qur'an hingga selesai
dibandingkan dengan para Sahaaba lain yang tidak
sanggup menyelesaikannya pada waktu itu. Jadi, Nabi
(saw) memberikan (dalam artian untuk dinikahkan )
Sayyidina `Ali ra kepada Sayyida Fatima ra.
Seorang Wali Qutb bertanya kepada Qutb lain kemudian
para Qutb mendiskusikannya Qutb pertama bertanya,
"Jika semua Sahaaba menyelesaikan pembacaaan Kitab
Suci Al Qur'an pada saat itu, apakah yang akan
dilakukan oleh Nabi (saw)?" Nabi (saw) menjawab jika
salah satu khatam Al Qur'an saat Fajr tiba, aku akan
memberikan dia kepada Fatima ra. Qutb pertama
menanyakan hal ini kepada Qutb kedua yang memiliki
tingkatan yang lebih tinggi. Perhatikan awliyaullah,
Nabi (saw) akan memberikan nomor kepada para Sahaaba
yang telah khatm Al Qur'an dan beliau (saw) akan
memberikan seorang Fatima kepada setiap orang.
Seberapa besar kepercayaan kalian? Kita dapat saja
menyangkalnya bahwa itu tidak mungkin. Tapi awliya,
perkataan Nabi (saw) tidak dapat disangkal. Jikalau
mereka semua atau pun separuhnya berhasil khatm Al
Qur'an, Allah akan menciptakan wanita-wanita yang
mirip dengan Fatima. Bukan hanya satu yang diberikan
kepada Sayyidina `Ali (ra).
Ini berasal dari hati Nabi (saw), *Hariisun `alaykum
bil-muminiina raufun* rahiim* beliau pengasih dan
berbelas kasihan kepada orang-orang beriman. Kalian
harus mempercayainya seperti Qutb tadi. Jangan
mempertanyakan seorang wali. Kalian tidak tahu
kesalahan apa yang kalian perbuat ketika kalian
meragukan dan mempertanyakaan seorang wali.
Awliyaullah seperti belerang merah, jarang ditemukan
dan tidak setiap orang mengaku dirinya sebagai wali.
Begitu banyak yang menganggap syekh mereka adalah
seorang wali. Ini tidak sesederhana itu. Wali adalah
seseorang yang telah berhasil mengendalikan egonya
sendiri. Dan telah diberikan kemurnian dari Allah,
kemurnian yang suci, satu bentuk kemurnian Nabi (saw)
yang suci lalu diberikan kepada syekh kalian.
Awliyaullah sebagaimana diterangkan dalam sesi
sebelumnya apa yang Sayyidina Bayazid al-Bistami
katakan. Perhatian Nabi (saw) tidak dapat dijelaskan
dan dimengerti oleh kemampuan awliyaullah ketika
mereka memasuki samudera pengetahuan lalu mereka
mengambil rahasia-rahasia ini sebagaimana yang
Grandsyekh katakan jangan tinggalkan 3x *shahada*,
70x* istighfaar* dan *Fatiha *dan *Amana ar-Rasula*dan
7x * alam nashrah* dan 11x *qul Huwa Allahu ahada*.
Apa yang mereka berikan adalah sebuah rahasia. Seperti
*Sayyidina `Ali* (ra) yang dengan tenang beristirahat
dan melafalkan semuanya hanya memerlukan waktu 10
menit dan disisi lain para Sahaaba terus dan terus
membaca Al-Qur'an dan tidak dapat menyelesaikannya.
Mereka harus membaca Al Qur'an dengan aturan dan
*Sayyidina `Ali* (r) menyelesaikannya hanya dalam 10
menit. Karena dalam 10 menit itu beliau dapat menbuka
kode dari apa yang beliau baca, sebuah kunci harta
karun yang beliau perlukan pada malam itu.
Karena saat Nabi (saw) memerintahkan meng-khatm Al
Qur'an bukan hanya membuka Al Qur'an kemudian membaca
hingga selesai. Jadi, artinya adalah apapun yang telah
'diperlihatkan' kalian harus membacanya sesuai dengan
rahasia yang terkandung dan aturan-aturannya. Saat
kalian mencapai batasan-batasan dan tujuan lalu kalian
diberikan hak untuk memiliki Fatima. Jika bukan kalian
lalu siapa yang berhak? *Sayyidina `Ali* (ra) dapat
memasuki samudera pengetahuan, laksana sebuah kunci
untuk membuka pintu dan masuk ke dalamnya.
Dan beliau berhak untuk siapa? Untuk Fatima ra. Jadi,
artinya adalah Fatima (ra) adalah surga tertinggi yang
dapat dicapai. Ada surga yang bernama Fatima (r) yang
diperuntukkan bagi siapapun yang dapat memasukinya
dari pintu yang *Sayyidina `Ali* (r) masuki. Fatima
berada dalam surga tersebut, dalam kota nabi. Dia
dapat mencapai Fatima surgawi sebaik dengan Fatima
secara fisik. Tidak ada yang dapat mengerti tingkatan
*Sayyida Fatima az-Zahra (r)*. Surganya dapat diambil
oleh seluruh *Ummah*. Dia tidak meninggalkan
seorangpun dari *Ummatan-Nabi* (saw).
Dengan syafa'at darinya, setiap orang akan memasuki
surga. Dia tidak akan meninggalkan seorang pun
tertinggal. Kemudian setelah Nabi (saw) akan
memberikan mereka 'pakaian'. Lalu apa yang akan Nabi
(saw) perbuat kepada mereka? Beliau akan memakaikan
mereka 'pakaian' dengan apa yang Allah berikan kepada
mereka.
Jadi, Grandsyekh berkata bahwa penghuni semua surga
adalah Muhammadiyun. Mereka memiliki fitur-fitur yang
terefleksi pada mereka. Fitur yang sama dengan Nabi
(saw). Inilah awliyaullah yang Allah berikan kepada
beliau, mereka *Ummat an-Nabi*, Allah memberikan
mereka kepada beliau dan mereka berada dibawah
perlindungan beliau, Kita memohon kepada Allah untuk
memelihara diri kita 'bersih', memelihara kita dalam
perhatian Nabi (saw) dan untuk memasuki surga *Sayyida
Fatima az-Zahra* (r)
Wa min Allah at tawfiq
Wassalam, arief hamdani
The Naqshbandi Haqqani Rabbani Whirling Dervishes
Rabbani Sufi Institute of Indonesia
www.mevlanasufi. blogspot. com
HP. 0816 830 748
Posted at 11/5/2006 8:38:43 pm by aRuL
Permalink
|
|

|
|
|
aRuLMarch 8th 1984 (Age 25) Male Surabaya buka blog saya di
asruldinazis.wordpress.com
The Side of Me... Ikhlas dalam Berikhtiar, Syukur dalam Nikmat, Tawakkal dan Musibah...dan Tetap Istiqomah Y
IKLAN
ingin beriklan di blog ini?
KLIK DI SINI!
MAU DOMAIN GRATIS? KLIK DI BANNER DI BAWAH INI
LINK
FS
BLOG FriendS
Thx Dah Mengunjungi BlogQ
|